14 Oktober 2025

Hari ini karena Mas masuk pagi, kami berangkat bersama.
Naik motor seperti biasa lewat belakang.
Di pinggir gang di samping Sono Kembang, ada penjual kaki lima.
Anaknya yang kira-kira usia 3 tahun baru mandi dan berganti pakaian.
Sehari-hari memang mereka tinggal di situ.
Hatiku sakit luar biasa.
Sampai kantor, di trotoar samping Graha Amerta, kulihat anak usia 6 tahunan makan nasi bungkus, berdua. Anak penjaja koran.
Hatiku makin sakit. 

Di negara sekaya ini, yang melimpah sumber daya, punya nikel, emas, uranium.
Anak-anak itu seharusnya tinggal di rumah yang hangat.
Dipeluk orang tua yang penuh kasih.
Masalah mereka seharusnya adalah PR Matematika.

Ayolah, seharusnya aku bisa berbuat lebih banyak.

Komentar

  1. Teman-teman sekelas anakku (SD) nggak becus ngerjain soal matematik waktu ulangan.
    Gurunya memberi solusi dengan membagi sekelas menjadi beberapa kelompok, lalu menyuruh kelompok-kelompok itu belajar di rumah.

    Aku mutusin nolongin dengan mentoring mereka ngerjain soal-soal.

    Aku mungkin nggak bisa nolongin anak miskin di pinggir jalan, tapi aku mungkin bisa membantu beberapa anak untuk memahami konsep matematik supaya tidak njelimet. Kalo mereka ngerti cara menyederhanakan persoalan, maka waktu gede nanti, mereka bisa nolong tetangga-tetangganya, termasuk nolongin tetangganya yang baru bisa menjajakan koran dan makan nasi bungkus berdua itu.

    BalasHapus

Posting Komentar