Menikmati Bromo di Masa Pandemi

 


Bromo dalam kacamata saya adalah tempat sejuk yang selalu membawa memori indah penuh romansa. Hamparan segara wedi (lautan pasir) yang luas membentang, dengan kawah Bromo dan Gunung Batok sebagai latarnya. Hijaunya rerumputan di Bukit Teletubbies. Diayomi megahnya Mahameru, selaksa dekapan hangat kasih sayang seorang ayah yang melindungi anak-anaknya.

Tujuh tahun berlalu sejak terakhir kali saya menginjakkan kaki di sini, menjadi saksi matahari terbit di Puncak Penanjakan.  Bukan waktu yang singkat untuk beragam kisah hidup yang datang kemudian tinggal atau justru memilih pergi. 

Bromo tetap dengan pesonanya. Menyihir saya untuk kembali menatapnya. Menguluk syukur pada Sang Pencipta, atas kesempatan mengunjunginya sekali lagi.   

 ***

 "Fif, 'ntar pas balik aku ya yang di depan. Mau motret." Ujar saya pada Afif, salah satu dari dua orang teman di jeep merah yang kami tumpangi. 

"Atur aja, Mbak.." jawabnya pendek tak lepas memantau view finder kamera DSLR kesayangannya.

Begitulah. Dengan adanya pandemi saat ini ada banyak hal yang perlu disesuaikan. Penerapan protokol kesehatan yang menyeluruh membuat jeep yang sedianya bisa dipakai berlima kini hanya boleh mengangkut 3 penumpang. Satu di depan di samping sopir dan dua di belakang. Tak lupa dibatasi dengan tirai plastik untuk meminimalkan droplet yang mungkin keluar dari masing-masing orang. Meski tentu saja sebenarnya kami semua juga wajib mengenakan masker.

Jeep yang kami tumpangi terus melaju. Merangsek naik melindas tanpa ampun jalanan kering berbatu yang menciptakan terbangan debu-debu halus. Kami bertiga terus bergoyang mengikuti gerak kendaraan sambil terkantuk-kantuk. Maklumlah, sepanjang perjalanan Surabaya-Probolinggo kami melewatkan waktu tidur karena terlalu asyik bercanda. Sungguh strategi yang salah.

Setelah melewati dua kali pemeriksaan protokol kesehatan oleh petugas setempat dan menghabiskan hampir 1 jam perjalanan, sampai juga kami di parkiran jeep. Saatnya kami trekking ke Puncak Penanjakan, ke Seruni Point.

Jam sudah menunjukkan waktu pukul 03.45 saat kami turun dari jeep. Trek yang akan kami lalui cukup menantang meski tidak dapat dikatakan terjal juga. Langit masih menampakkan bintang-bintang yang begitu indah. Udara dingin subuh hari terasa makin menggigit kulit. Namun di ufuk timur mulai nampak mega merah tanda matahari tak lama lagi akan terbit. Duh, kesiangan nih!

Jujur, saya sudah kehilangan motivasi. Trek yang akan kami lalui kurang lebih sejauh 1,5 km. Dalam keadaan lelah dan mengantuk luar biasa akibat begadang semalaman, saya yakin tidak akan bisa menyelesaikannya.

Kami terus berjalan, seraya berhitung.

Gaes, silakan naik terus. Aku sampe sini aja. Enggak bakalan nutut sebelum sunrise..” Putus saya akhirnya.

Ya, saya memilih menyudahi trekking kami yang mungkin baru seperempat jalan. Mega semakin merah, sebentar lagi waktu subuh habis. Siapa yang bisa memastikan di atas ada tempat yang proper untuk salat.

Kecewa sih, tapi bukankah hidup memang penuh dengan pilihan? Dan setiap pilihan selalu ada konsekuensinya.

Selepas salat subuh di saung tak jauh dari rute trekking tempat saya memisahkan diri dari rombongan, saya menggelar peralatan motret. Tempat ini enggak kalah bagus kok. Semua elemen penting kunjungan ke Bromo tetap bisa diabadikan dari tempat kaki saya berpijak.

***

“Nggak naik ke puncak, Non? Bisa pakai kuda, 50 ribu aja sampai ke kaki tangga”

Saya menoleh. Seorang bapak paruh baya bermasker biru sedang berdiri tidak jauh dari tempat saya memotret. Di sampingnya nampak seekor kuda berwarna cokelat gelap. Bapak itu memakai kerpus (topi kupluk bahan rajutan), jaket dan sehelai sarung terikat di lehernya sebagai tambahan untuk menghalau udara dingin di Bromo. Benar sekali. Beliau penyedia jasa sewa kuda di Bromo.

Saya tersenyum. Tuhan Maha Baik. Dia gantikan kesempatan saya menikmati Penanjakan dari puncaknya dengan pertemuan dengan si bapak. Saya memang tidak bisa menikmati trekking ke Penanjakan sampai akhir, tapi saya dapat pengalaman pengganti yang saya yakin tidak kalah mengasyikkan.

Namanya Pak Widi. Beliau orang Tengger. Sudah 15 tahun bekerja sebagai penyedia persewaan kuda di sela-sela kesibukan hariannya sebagai petani sayur. Biasanya beliau menyewakan kuda justru bukan di Puncak Penanjakan. Beliau lebih suka mangkal di sekitar Pura di bawah. Para wisatawan akan menyewa kuda untuk berkeliling di sekitar kawah di Kawasan Bromo. Meski bukan sebagai profesi utama, nampak sekali beliau bangga dan menikmati profesinya.

“Dulu sebelum Corona, kalau weekend gini bisa 200-300 tukang kuda, Non. Sekarang palingan 20an aja sudah bagus” Ujarnya sembari memandang jauh ke arah Gunung Bromo di hadapan kami.

“Sepi..” lanjutnya lirih.

Ada nada kepahitan dari kalimat-kalimat yang beliau ucapkan.

Tenggorokan saya tercekat. Saya sangat tahu bagaimana rasanya. Sebagai salah satu pelaku di industri pariwisata, kami juga terhantam oleh dampak pandemi ini. Penurunan omset di atas 75%. Mengalami harus dipotong gaji drastis, atau bahkan terpaksa beberapa orang karyawan harus di-unpaid leave. Sungguh. Pandemi ini bukan hanya memukul aku dan kamu, pandemi ini mengguncang kita semua.

Pak Widi terus bercerita tentang kehidupannya selama pandemi, bagaimana beliau harus survive dengan keadaan, harus beradaptasi agar tetap bisa menyambung hidup.

Perlahan pemerintah mulai melonggarkan kebijakan terkait kepariwisataan. Tentu tetap dengan protokol kesehatan yang wajib dipenuhi. Kawasan wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru juga mulai dibuka. Harapan dari para pelaku industri pariwisata, perekonomian akan kembali menggeliat, meski tentu belum akan benar-benar pulih.

Meski di sisi lain, pelonggaran ini juga menimbulkan kekhawatiran lainnya. Karena sebenarnya jumlah penularan virus Covid19 belum benar-benar melandai. Kita seolah dihadapkan pada dua pilihan yang sulit: sakit atau lapar.

***

Pagi mulai beranjak siang. Matahari mulai tampak garang. Namun udara dingin dan kering di puncak musim kemarau tahun ini masih menusuk. Teman-teman rombongan saya sudah turun dari Puncak Penanjakan. Pak Widi pun sudah pamit pergi. Namun obrolan kami terasa begitu membekas di hati.

Jeep yang kami tumpangi kembali mengguncang-guncang menekuri jalan berbatu meninggalkan debu tebal beterbangan. Sudah saatnya kami pulang. Kembali ke Tosari ke tempat kendaraan kami terparkir.

Sepanjang perjalanan pulang, saya menekuri kamera yang sedari tadi saya pegang. Beberapa obyek menarik sempat saya abadikan. Afif dan Tika sudah tidak bersuara di belakang. Benar saja. Tak peduli goncangan jalan berbatu mereka sudah pulas dengan posisi tidurnya masing-masing. Tinggal saya dan pak sopir jeep kami yang masih terjaga.

Debu-debu dari laju jeep rombongan kami kian menebal. Beberapa pertanyaan terlintas di kepala saya. Akankah hidup kita akan kembali seperti dulu? Atau justru pandemi ini adalah awal yang memaksa kita berubah dengan cara hidup kita yang baru? Atau akankah kita bernasib sama seperti Dinosaurus yang punah jika kita tidak mampu beradaptasi?

Saya masih belum bisa memejamkan mata.

 

 

Komentar